Rakernas PUTRI 2025 Dorong Kolaborasi Pemerintah–BUMN–Industri Wisata untuk Majukan Pariwisata Nasional

JogjaViews
9 Des 2025 04:12
2 menit membaca

Jogjaviews.com – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) digelar di Syailendra Fifth Avenue, Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Minggu (7/12/2025). Acara ini menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto dan Wakil Kepala II Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata, yang menjadi pembicara utama. GKR Bendara dan Redita Aliyah memandu jalannya diskusi yang berlangsung dinamis.

Rakernas tahun ini menegaskan fokus utama PUTRI: memperkuat kinerja industri taman rekreasi sekaligus memastikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat. Organisasi ini mendorong agar sektor wisata tidak hanya bertumpu pada keuntungan komersial, tetapi juga memberikan nilai publik dan menjaga keberlanjutan jangka panjang.

Dalam sesi dialog, perwakilan BUMN menyampaikan kesiapan untuk bermitra dengan pelaku industri wisata selama program yang diajukan memiliki manfaat yang jelas, terukur, dan saling menguntungkan. Tedi Bharata menegaskan bahwa kontribusi BUMN pada pengembangan pariwisata telah hadir melalui pembangunan infrastruktur, program sertifikasi, hingga dukungan finansial.

Namun ia mengingatkan bahwa tidak semua inisiatif perlu dibingkai sebagai CSR—pertimbangan bisnis tetap harus diperhatikan.

PUTRI juga didorong untuk mengambil peran lebih strategis sebagai advisor kebijakan bagi Kemendagri, khususnya dalam pengembangan gastronomi, wellness tourism, dan pengelolaan destinasi. Wamendagri Bima Arya membuka ruang kolaborasi tersebut, sembari menekankan pentingnya memilih entry point yang tepat mengingat luasnya cakupan tugas Kemendagri.

Asosiasi juga didorong aktif memberi masukan kebijakan, terlibat dalam event strategis, dan memperkuat jejaring dengan organisasi daerah seperti Apeksi, Apkasi, dan APPSI.

Isu penguatan desa wisata turut mendapat perhatian khusus. Kemendagri menilai tata kelola destinasi harus dibangun secara partisipatif karena melibatkan banyak pemangku kepentingan. Untuk mendukung pengembangan desa wisata, Dirjen Pemerintahan Desa telah menyiapkan pelatihan aparatur desa terkait manajemen destinasi, pemasaran, digital marketing, hingga pembangunan ekosistem pariwisata.

Meski demikian, penyesuaian regulasi masih diperlukan agar sesuai dengan dinamika masyarakat.

Dalam sesi pembahasan destinasi, Rakernas menyoroti pentingnya identitas dan konsep kuat dalam pengembangan proyek wisata. Proses perencanaan perlu melibatkan budayawan, akademisi, dan komunitas sejak awal agar tidak memicu resistensi publik, seperti yang pernah terjadi pada wacana proyek “glow” di Kebun Raya Bogor.

PUTRI menilai diversifikasi wisata perlu terus diperluas, mencakup wisata edukasi, wisata inspiratif, ekowisata, hingga wellness tourism. Pelibatan komunitas lokal menjadi kunci agar destinasi dapat hidup dan berkembang berkelanjutan.

Rakernas 2025 pun ditutup dengan kesimpulan bahwa konsistensi pelaku usaha menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan industri. Meski pejabat berganti, komitmen kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan industri wisata harus terus dijaga untuk memastikan pariwisata Indonesia tumbuh semakin kuat.

x
x