Awal 2026, Harga Bahan Pokok di Yogyakarta Masih Stabil Meski Cabai Fluktuatif

JogjaViews
7 Jan 2026 01:28
3 menit membaca

Yogyakarta, Jogjaviews.com – Harga bahan pokok di Kota Yogyakarta sejak Desember 2025 hingga 6 Januari 2026 terpantau relatif stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi daya beli masyarakat di awal tahun, meski sejumlah komoditas masih mengalami fluktuasi harga.

Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Riswanti, menyampaikan bahwa secara umum harga kebutuhan pokok utama masih terkendali.

“Beras cenderung stabil, minyak goreng dan gula pasir juga relatif stabil. Hanya untuk merek tertentu yang diminati masyarakat seperti Minyak Kita, pasokannya agak terbatas karena sebagian besar terserap untuk bantuan pangan,” ujar Sri Riswanti saat diwawancarai, Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan, pada Desember 2025 pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter Minyak Kita untuk setiap kepala keluarga. Kebijakan tersebut berdampak pada terbatasnya pasokan Minyak Kita di pasar.

“Minyak Kita ini memang sangat diminati karena harganya stabil dan diatur melalui Harga Eceran Tertinggi (HET). Saat kami koordinasi dengan Bulog, stok yang tersedia juga terbatas,” jelasnya.

Untuk komoditas daging sapi, harga relatif stabil di kisaran Rp135.000 per kilogram. Kenaikan sekitar Rp5.000 terjadi menjelang akhir 2025, setelah sebelumnya berada di angka Rp130.000 per kilogram.

“Karena tahun ini baru berjalan sekitar satu minggu, masih terlalu dini untuk melihat perbandingan harga yang signifikan,” kata Sri Riswanti.

Sementara itu, beberapa komoditas masih menunjukkan pergerakan harga yang cukup dinamis, terutama cabai, telur ayam, dan daging ayam. Berdasarkan data terbaru, harga cabai rawit hijau mencapai Rp65.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp58.000 per kilogram, daging ayam Rp32.000 per kilogram, serta beras medium merek C4 di kisaran Rp12.000 per kilogram.

Sri Riswanti menjelaskan, fluktuasi harga cabai dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari cuaca, serangan hama, hingga karakter cabai yang tidak bisa disimpan lama.

“Cabai ini paling tinggi disparitas harganya. Saat panen raya harganya bisa sangat murah, tapi ketika produksi turun dan permintaan naik, terutama menjelang hari besar keagamaan, harganya bisa melonjak,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar pasokan bahan pokok di Kota Yogyakarta berasal dari luar daerah karena tidak memiliki sentra produksi sendiri. Beras dan cabai banyak dipasok dari wilayah Jawa Tengah seperti Temanggung, Magelang, dan Mungkid. Sementara bawang putih dan bawang bombai seluruhnya berasal dari impor, sedangkan bawang merah didatangkan dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

Menjelang potensi peningkatan permintaan pada bulan Ramadhan, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan agar harga tetap terkendali.

“Hukum pasar supply dan demand tetap berlaku. Yang bisa kami lakukan adalah memastikan pasokan cukup dan mudah diakses, sehingga meskipun permintaan meningkat, harga tidak melonjak terlalu tinggi,” imbuhnya.

Sebagai bentuk transparansi, masyarakat juga dapat memantau perkembangan harga dan ketersediaan bahan pokok melalui aplikasi Jogja Smart Service (JSS) yang menampilkan grafik harga harian hingga perbandingan data satu tahun terakhir.

sumber: warta.jogjakota.go.id

x
x