RI–Jepang Perkuat Kolaborasi Menuju Industri Otomotif Rendah Karbon

JogjaViews
13 Nov 2025 00:09
3 menit membaca

Jakarta, Jogjaviews.com – Pemerintah Indonesia dan Jepang sepakat memperkuat kolaborasi untuk mendorong industri otomotif yang lebih ramah lingkungan. Komitmen ini ditegaskan dalam The 6th Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan The 1st Biofuel Co-Creation Task Force Meeting yang digelar di Jakarta, 11 November 2025.

Forum tersebut menjadi wadah strategis bagi kedua negara dalam memperdalam sinergi pengembangan teknologi kendaraan masa depan yang rendah emisi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kerja sama antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang menjadi langkah konkret menuju mobilitas rendah karbon.

“Forum ini mendukung percepatan transisi menuju kendaraan rendah emisi melalui berbagai pendekatan, termasuk elektrifikasi dan pemanfaatan biofuel,” ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (12/11).

Sementara itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta menegaskan, pemerintah terus mendorong pengembangan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.

“Kami berkomitmen mencapai target Net Zero Emission 2060 melalui program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang mencakup teknologi mesin fleksibel berbasis biofuel,” katanya.

Setia berharap langkah ini bisa memberikan dampak nyata di seluruh rantai industri otomotif, dari hulu hingga hilir.

Dari sisi energi, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyebut sinergi lintas sektor menjadi kunci percepatan transisi energi bersih.

“Pemerintah menjalankan program biofuel seperti biodiesel, bioetanol, bioavtur, dan green diesel atau hydrotreated vegetable oil (HVO). Kami menargetkan penerapan E10 pada 2028,” jelasnya.

Eniya menekankan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan dukungan infrastruktur dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan.

Dari Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Deputi Rachmat Kaimuddin menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, ekonomi, dan lingkungan.

“Sekitar 20–30% energi nasional masih impor, mayoritas berupa minyak untuk transportasi. Kami ingin mengurangi ketergantungan ini demi menjaga keberlanjutan fiskal,” ujarnya.

Dari pihak Jepang, Director General of Manufacturing Industries Bureau METI, Tanaka Kazushige, menyebut Indonesia sebagai pemain penting di pasar otomotif Asia.

“Kombinasi sumber daya bioenergi Indonesia dan teknologi Jepang akan membuka masa depan otomotif yang cerah,” ungkapnya.

Selain membahas kebijakan kendaraan rendah emisi, forum juga menyoroti rencana pengujian dan standardisasi bahan bakar E10 dan B50, serta produksi etanol dan HVO yang ditargetkan mulai 2027.

Perwakilan dari METI dan Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) juga mendorong kolaborasi lebih erat dengan pemerintah Indonesia, Pertamina, dan GAIKINDO untuk memperkuat kebijakan biofuel nasional.

Sementara itu, perwakilan dari Kementerian ESDM, LEMIGAS, dan Pertamina memaparkan perkembangan uji coba B40 dan persiapan B50 yang melibatkan proyek Cilacap dan Plaju Green Refinery.

Industri juga ikut ambil bagian. PT Kilang Pertamina Internasional menampilkan produk Pertamina Renewable Diesel (HVO), sedangkan Asosiasi Produsen Spiritus dan Ethanol Indonesia (APSENDO) menyoroti potensi molases sebagai bahan baku bioetanol nasional.

Acara ini turut dihadiri berbagai kementerian, lembaga, pelaku usaha, dan asosiasi seperti Kemenko Perekonomian, Kemenhub, BRIN, Badan Pengelola Dana Perkebunan, GAIKINDO, AISI, hingga ITB.

Melalui forum ini, Indonesia dan Jepang berharap kemitraan strategis di sektor otomotif dapat semakin erat, mendorong pertumbuhan industri berkelanjutan, dan mempercepat pencapaian target carbon neutrality.

x
x