Cau Chocolate Genjot Produktivitas Kakao Bali Lewat Pendampingan Petani

JogjaViews
26 Nov 2025 05:24
2 menit membaca

Jogjaviews.com – Upaya meningkatkan produktivitas kakao di Bali terus digalakkan Cau Chocolate. Perusahaan pengolahan cokelat asal Tabanan ini kini membina sekitar 300 hingga 400 hektare lahan kakao melalui kerja sama dengan 12 gabungan kelompok tani yang tersebar di Tabanan dan Jembrana. Fokus pendampingan diarahkan pada penerapan budidaya organik agar kebun terkelola lebih optimal.

CEO Cau Chocolate, I Kadek Surya Prasetya Wiguna, mengatakan timnya rutin turun langsung ke lapangan untuk mendampingi petani, mulai dari perawatan tanaman hingga pengendalian hama secara organik. Menurutnya, pendekatan perusahaan tidak hanya soal harga beli produk, tetapi juga bagaimana menjaga semangat petani dalam mengelola kebun.

“Kalau kebunnya dikelola dengan benar, produktivitas akan ikut naik. Target kami satu pohon bisa menghasilkan dua kilogram biji kering,” ujar Wiguna, Senin (24/11/2025).

Saat ini produktivitas kakao nasional masih berada di kisaran 600 kilogram per hektare per tahun. Namun, kebun percontohan Cau Chocolate sudah mampu mencapai 1,5 hingga 1,7 ton per hektare per tahun. Dengan harga kakao sekitar Rp100 ribu per kilogram, potensi pendapatan petani bisa menyentuh Rp150 juta per hektare dalam setahun.

Cau Chocolate juga memperluas akses pasar sejak 2021. Produk olahannya kini telah masuk ke Singapura, Malaysia, Qatar, Polandia, dan Australia, dengan Australia menjadi pasar terbesar. Perusahaan pun tengah membangun pabrik baru yang ditargetkan mampu memproduksi hingga dua ton kakao per hari.

Meski harga kakao dunia tengah turun hingga Rp85 ribu per kilogram, Wiguna memastikan perusahaan tetap membeli kakao petani minimal Rp100 ribu per kilogram. Ia menegaskan bahwa harga yang baik harus selaras dengan kualitas bahan baku. Kakao Bali, menurutnya, dapat bersaing di pasar global berkat mutu yang konsisten.

Ketua Kelompok Tani Kakao Utama, I Gede Eka Aryasa, mengakui bahwa pendampingan rutin yang diberikan Cau Chocolate berdampak signifikan terhadap hasil panen petani. Jika sebelumnya produktivitas hanya sekitar 500 kilogram per hektare, kini hasilnya dapat menembus lebih dari satu ton, bahkan mendekati standar produktivitas ideal.

“Dari sisi ekonomi, perubahan ini sangat terasa. Produksi naik, bibit unggul, dan penyuluhan berjalan dengan baik,” ujar Eka.

Dengan kepemilikan lahan lima hektare, Eka kini mampu mencatat produktivitas 2,5 hingga 3 ton per hektare berkat pengelolaan yang lebih tepat. Ia juga menyebutkan bahwa harga kakao kering fermentasi berada pada kisaran Rp120 ribu per kilogram, sedangkan kakao non-organik hanya terpaut sekitar Rp5 ribu saja.

“Meski non-organik, standar biji yang masuk ke Cau tetap premium. Tidak asal-asalan,” tegasnya.

Pendampingan yang dilakukan Cau Chocolate diharapkan dapat terus mendorong produktivitas petani kakao di Bali sekaligus menjaga kualitas kakao lokal agar semakin kompetitif di pasar internasional.

Sumber: infopublik.id

x
x