Pemkot Yogyakarta Dorong Kemandirian Pelaku Seni Lewat Penguatan Jejaring Budaya

JogjaViews
2 Jan 2026 03:10
2 menit membaca

Yogyakarta, Jogjaviews.com – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar Diskusi Kebudayaan bertema “Niti Laku, Nata Semu Kabudayan” di Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Rabu (31/12). Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi dan refleksi akhir tahun sekaligus menata arah kebijakan kebudayaan 2026.

Forum dihadiri Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan, Kepala Dinas Kebudayaan Yetti Martanti, budayawan, akademisi, praktisi seni, komunitas budaya, dan pemangku kepentingan lainnya.

Wawan menyebut, sepanjang 2025 Kota Yogyakarta telah menjalankan beragam program strategis, mulai dari penguatan publikasi budaya dan jejaring kawasan heritage, penyelenggaraan Rakernas XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), optimalisasi Taman Budaya Embung Giwangan, hingga penguatan citra kawasan budaya seperti Malioboro.

“Keberhasilan pembangunan kebudayaan tidak semata dari program yang terlaksana, tapi dari dampak nyata terhadap ekosistem seni, kesejahteraan pelaku budaya, dan identitas Yogyakarta sebagai kota budaya yang hidup,” ujar Wawan.

Kepala Dinas Kebudayaan Yetti Martanti menekankan pentingnya mekanisme evaluasi dan masukan pemangku kepentingan. Program 2025 difokuskan pada pengembangan publikasi, jejaring, dan penguatan kawasan heritage. Sejumlah kegiatan telah digelar, antara lain:

  • Rakernas dan Seminar JKPI

  • Indonesian Street Performance

  • Pasar Malam Indonesia

  • Festival Sastra dan Master Class

  • Kampung Menari, Pembinaan RKB, Kompetisi Bahasa dan Sastra

  • Gelar Upacara Adat dan Pelatihan Dalang

  • Optimalisasi Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan

Selain itu, Dinas Kebudayaan menghadirkan inovasi layanan publik seperti Jumat Layanan Jadi (JUMADI) dan sistem respon cepat pengaduan harian untuk kawasan Malioboro.

Yetti menyebut, tema “Niti Laku, Nata Semu Kabudayan” mengandung pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, tapi laku hidup, nilai, dan arah yang ditata bersama untuk masa depan.

Penggiat seni RM Altianto Hendriawan mengapresiasi fasilitasi Pemkot Yogya terhadap aktivitas seni kolaboratif. Ia menekankan pentingnya dukungan tidak hanya dari pendanaan, tetapi juga pendampingan, penguatan jejaring, dan perluasan kerja sama dengan mitra luar pemerintah.

Ke depan, Pemkot Yogyakarta menargetkan sejumlah inovasi, termasuk:

  • Sosialisasi cagar budaya melalui kerja bakti bersama masyarakat

  • Optimalisasi layanan JUMADI

  • Peningkatan aktivitas budaya di Taman Budaya Embung Giwangan

  • Perbaikan fasilitas publik di Malioboro seperti toilet mobile, tempat sampah, penerangan lampu budaya, dan penataan tata kelola event

Diskusi kebudayaan ini menegaskan komitmen Pemkot Yogya untuk terus membangun ekosistem seni budaya yang mandiri, berkelanjutan, dan relevan dengan perkembangan zaman.

sumber: warta.jogjakota.co.id

x
x