KKP merehabilitasi mangrove di kawasan Sentra Industri Garam Nasional Rote Ndao untuk memperkuat pesisir dan mendukung pembangunan berkelanjutan. foto: Dok KKPRote Ndao, Jogjaviews.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui penanaman dan rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN), Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang dilaksanakan Kamis (25/12/2025) ini melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat. Rehabilitasi mangrove dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir, menekan risiko abrasi, sekaligus menjaga fungsi ekologis pantai di tengah percepatan pembangunan Proyek Strategis Nasional.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menegaskan bahwa pembangunan kawasan industri garam harus berjalan seimbang dengan perlindungan lingkungan.
“Pembangunan sentra industri garam di Rote Ndao harus seiring dengan upaya menjaga ekosistem pesisir. Kita membangun industri, tetapi memastikan lingkungan tetap terlindungi dan berfungsi dengan baik,” kata Koswara dalam keterangan resmi di Jakarta.
Menurutnya, KKP menargetkan rehabilitasi mangrove hingga sekitar 600 hektare, bergantung pada ketersediaan lahan yang dapat direstorasi. Program ini disiapkan sebagai agenda jangka menengah dan panjang yang akan berlangsung hingga 2027, seiring dengan penyelesaian pembangunan K-SIGN.
Pada tahap awal, penanaman mangrove telah dilakukan di lahan seluas sekitar 22 hektare. Rehabilitasi akan terus diperluas pada tahun-tahun berikutnya, dengan penanaman lanjutan direncanakan kembali dimulai tahun depan.
KKP juga melibatkan masyarakat lokal, khususnya dalam penyediaan bibit mangrove dan kegiatan penanaman. Pelibatan ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Selain menjaga ekosistem, keterlibatan masyarakat diharapkan bisa mendorong ekonomi lokal dan memperkuat rasa kepemilikan terhadap kawasan pesisir,” ujar Koswara.
Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, menyambut positif langkah KKP yang mengintegrasikan pembangunan industri garam dengan upaya perlindungan lingkungan. Ia menilai keberadaan K-SIGN membawa dampak ekonomi sekaligus mendorong pembangunan infrastruktur di wilayahnya.
“Ini bukan hanya soal industri garam, tetapi tentang masa depan ekonomi dan lingkungan Rote Ndao. Mangrove punya manfaat besar, mulai dari menahan abrasi hingga menjadi habitat biota laut,” kata Paulus.
Ia menambahkan, keberadaan mangrove juga membuka peluang ekonomi baru, seperti peningkatan hasil perikanan serta potensi pemanfaatan jasa lingkungan, termasuk skema karbon di masa depan.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono yang mendorong penerapan ekonomi biru melalui pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan ramah lingkungan guna memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
sumber: KKP

