Pameran keris di Demak tampilkan pusaka langka termasuk Katga bernilai Rp35 juta. Pengrajin dan kolektor hadir dari berbagai daerah. Foto: infopublik.idJogjaviews.com – Pameran Keris (Tosan Aji) yang digelar di Pendopo Satya Bhakti Praja, Kabupaten Demak, menjadi ajang penting bagi pengrajin dan kolektor untuk memperkenalkan ragam pusaka Nusantara kepada masyarakat. Acara yang berlangsung pada 25–27 November 2025 ini diikuti peserta dari berbagai daerah, seperti Lombok, Mojokerto, Malang, hingga Yogyakarta, dan dibuka untuk pengunjung mulai pukul 10.00–22.00 WIB.
Salah satu peserta, Hartono Citranala asal Mojokerto, menyambut baik penyelenggaraan pameran ini. Ia menilai kegiatan tersebut mampu menumbuhkan minat generasi muda terhadap keris, tidak hanya sebagai benda seni tetapi juga sebagai warisan budaya penuh nilai filosofi.
“Semoga makin banyak yang tertarik dan melihat langsung ragam koleksi Tosan Aji,” ujarnya di sela pameran, Rabu (26/11/2025).
Hartono menjelaskan bahwa sebagian besar keris yang dipamerkan tersedia untuk dijual. Harga yang ditawarkan sangat bervariasi, mulai dari Rp2 juta hingga Rp100 juta, tergantung usia bilah, tingkat kerumitan rancang bangun, detail pamor, serta karakteristik masing-masing pusaka.
Peminatnya pun beragam, tidak hanya para ahli Tosan Aji, tetapi juga kolektor baru yang terpesona pada aspek historis maupun keindahannya.
Ia juga memaparkan makna luk atau lekukan pada bilah keris yang kerap menjadi ciri khas penting. Jumlah luk dapat berkisar dari satu hingga 49 dan sering kali membawa filosofi tertentu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar pusaka.
Dalam kesempatan ini, Hartono membawa salah satu koleksi langkanya, yaitu Katga—pusaka tua yang berasal dari wilayah Kahuripan. Katga dikenal sebagai senjata tradisi yang muncul jauh sebelum bentuk keris modern dikembangkan. Temuan tersebut berasal dari kawasan Brantas, Kertosono, dan kini ditaksir bernilai sekitar Rp35 juta karena kelangkaan dan sejarah yang menyertainya.
Pameran keris di Demak ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi budaya, tetapi juga wadah edukasi bagi masyarakat mengenai kekayaan warisan leluhur Nusantara. Penyelenggara berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan menjadi jembatan pelestarian budaya bagi generasi mendatang.
Sumber: infopublik.id

