Pengembangan Malioboro Berbasis Budaya Dorong Ekonomi Kreatif Masyarakat Yogyakarta

JogjaViews
12 Des 2025 06:46
3 menit membaca

YOGYAKARTA, jogjaviews.com – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengembangan Malioboro sebagai kawasan berbasis budaya yang mampu mendukung ekosistem ekonomi kreatif masyarakat. Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, dalam gelaran YogyaSemesta Seri 137 di Pendhapa Wiyatapraja, Komplek Kepatihan, Kamis (11/12/2025).

Menurut Wawan, Kota Yogyakarta memiliki kekayaan seni dan budaya yang sangat besar. Tercatat ada 490 sanggar dan komunitas budaya yang bergerak di berbagai bidang seperti tari, karawitan, teater, ketoprak, bregada, hingga musik tradisi. Potensi tersebut menjadi kekuatan utama dalam pengembangan kawasan Malioboro.

“Potensi seni dan budaya kita luar biasa. Kota Yogyakarta hidup dengan denyut tradisi dan kreativitas yang tidak pernah padam,” ujar Wawan.

Ia juga menyoroti keberadaan warisan budaya tingkat dunia, yakni Sumbu Filosofis Yogyakarta yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Selain itu, Kota Yogyakarta memiliki empat Kawasan Cagar Budaya, yakni Kraton, Pakualaman, Kotabaru, dan Kotagede. Modal budaya ini disebut menjadi fondasi kuat dalam menjadikan Malioboro sebagai ruang seni budaya yang tumbuh secara alami maupun melalui program pemerintah.

Wawan menjelaskan bahwa Malioboro kini bukan hanya pusat pariwisata dan perdagangan, tetapi juga area pertunjukan seni yang digerakkan oleh komunitas, pelaku budaya, dan industri kreatif. Hampir setiap pekan, berbagai kegiatan seni digelar di kawasan tersebut.

“Dengan banyaknya potensi seni yang ada, kami ingin menjadikan Malioboro sebagai ruang seni budaya. Bukan sekadar tempat wisata, tetapi ruang ekspresi, ruang berkarya, dan penjaga identitas budaya,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Wawan juga memaparkan penataan seniman jalanan yang dilakukan Dinas Kebudayaan. Sebanyak 116 seniman jalanan telah melalui proses kurasi, pembinaan, dan penempatan area tampil agar lebih tertib tanpa menghilangkan karakter seni jalanan.

Penataan ini, menurut Wawan, mendapat respons positif dari pengunjung maupun wisatawan karena suasana Malioboro kini lebih nyaman sekaligus tetap hidup dengan nuansa seni.

Selain sebagai ruang budaya, Malioboro juga dinilai memiliki dampak besar terhadap pemberdayaan ekonomi kreatif. Wawan mencontohkan Program Sekar Rinonce yang rutin digelar setiap Sabtu dan melibatkan banyak sanggar. Program tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi seniman, UMKM, serta pelaku industri kreatif di sekitarnya.

“Ekosistem budaya yang berkembang di Malioboro ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Geliat UMKM dan pelaku kreatif di sepanjang Malioboro menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dan seni budaya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.

Menutup paparannya, Wawan menyatakan bahwa transformasi Malioboro kini semakin terlihat nyata. Kawasan ini bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang ekspresi masyarakat dengan nuansa budaya yang kuat.

“Malioboro sudah bertransformasi menjadi ruang ekspresi aktivitas masyarakat dalam balutan budaya yang kuat. Inilah wajah Yogyakarta yang harus kita jaga dan kembangkan bersama,” pungkasnya.

Sumber: warta.jogjakota.go.id

x
x