Meutya Hafid: Program Tani Digital Bukti Teknologi Bisa Percepat Ketahanan Pangan

2 menit membaca

Sragen, Jogjaviews.com – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa teknologi digital kini memainkan peran penting dalam mempercepat terwujudnya ketahanan pangan nasional. Hal itu disampaikan Meutya saat menghadiri kegiatan Panen Tani Digital di Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rabu (5/11/2025).

Menurut Meutya, sektor pertanian Indonesia sedang memasuki era baru yang tak lagi hanya mengandalkan tenaga manusia dan lahan, melainkan juga teknologi, data, serta inovasi digital.

“Teknologi baru itu tidak hanya mengawang, tapi harus membumi. Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial (AI) harus dimanfaatkan agar berdampak langsung terhadap produktivitas masyarakat,” ujarnya.

Program Tani Digital yang digagas Kemkomdigi dirancang untuk mentransformasi praktik pertanian menjadi lebih efisien, produktif, dan ramah lingkungan. Salah satu perangkat andalannya, IoT Smart Precision Agriculture System, merupakan inovasi lokal buatan anak bangsa.

Hasilnya, produktivitas meningkat signifikan, sementara penggunaan pupuk bisa ditekan hingga 50 persen. “Kita lihat produktivitasnya naik, penggunaan pupuk turun, begitu juga emisi karbon dan polusi air akibat kelebihan pupuk,” kata Meutya.

Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemkomdigi, Kementerian Pertanian, Pemerintah Kabupaten Sragen, serta mitra penyedia teknologi. Meutya menegaskan pentingnya peran startup lokal dalam mendukung kedaulatan teknologi.

“Kalau kita mau mewujudkan kedaulatan pangan, teknologinya juga harus berdaulat. Anak-anak muda ini sudah membuktikan bahwa startup lokal bisa memberi solusi nyata,” tegasnya.

Program Tani Digital juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam KTT APEC 2025 di Korea Selatan, yang menekankan pentingnya penerapan teknologi modern untuk mencapai swasembada pangan.

“Kita ingin agar teknologi ini dimanfaatkan untuk hal-hal yang menjadi prioritas Presiden,” tambah Meutya.

Sementara itu, Tri Widodo, petani asal Sragen yang telah menggunakan sistem pertanian berbasis IoT, merasakan langsung manfaatnya. Ia mengaku pengeluaran pupuknya turun hingga 40 persen per hektare.

“Sebelum pakai alat digital Jinawi, pupuk per hektarnya 1,05 ton. Sekarang hanya sekitar 650 kilogram,” tuturnya.

Selain penghematan, alat tersebut juga memudahkan petani memantau kondisi tanah. “Kami bisa melihat kesehatan tanah dan kandungan zat asamnya langsung dari sistem digital,” lanjutnya.

Transformasi pertanian melalui Tani Digital membuktikan bahwa teknologi bukan hanya milik kota, tetapi juga sahabat bagi petani desa. Kolaborasi antara tradisi dan inovasi ini menjadi langkah nyata menuju kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

sumber: Kemkomdigi

x
x