Kukuh Prasetyo, pemuda Tempel, menghidupkan Batik Merdiko lewat kreativitas berani, kolaborasi komunitas, dan dedikasi melestarikan batik Sleman. foto: IIstimewaSleman, Jogjaviews.com – Di Padukuhan Sokamartani, Kalurahan Merdikorejo, Tempel, semangat melestarikan batik tumbuh dari sosok yang tidak biasa: seorang anak muda. Kukuh Prasetyo, 30 tahun, Ketua Kelompok Batik Merdiko, telah menjadikan batik sebagai jalan hidupnya sejak 2016. Pada Minggu pagi (23/11/2025), ia tampak tekun mewarnai puluhan lembar kain, sebuah proses yang menurutnya memadukan ketelitian, kesabaran, dan kecintaan.
Kukuh tidak bekerja sendiri. Di sanggar sederhana yang berada di halaman rumah salah satu anggota, sekitar dua puluh anggota kelompok (mulai dari ibu rumah tangga hingga mahasiswa) bekerja secara kolaboratif.
“Di kelompok kami tidak ada sistem karyawan. Semua anggota bekerja bersama sesuai perannya masing-masing,” ujarnya.
Meski hanya ada dua anggota laki-laki, kelompok ini berjalan dengan kuat berkat gotong royong. Pertemuan rutin dilakukan setiap bulan untuk mengecek stok, membaca peluang pasar, membahas pameran, menyusun rencana produksi, hingga menggelar arisan demi menjaga keakraban.
Keberanian Batik Merdiko dalam bermain warna dan bentuk membuatnya dikenal sebagai batik yang menembus pakem. Corak non-konvensional, penggunaan warna tegas, dan desain yang mengikuti selera konsumen menjadi ciri kuat karya mereka. Kukuh yang memiliki bakat menggambar sejak kecil sering menciptakan motif orisinal, dan beberapa karyanya bahkan dihargai lebih dari satu juta rupiah per lembar.
“Tren dan permintaan pembeli sangat memengaruhi desain kami. Tapi kreativitas tetap jadi ciri khas Batik Merdiko,” katanya.
Pertumbuhan Batik Merdiko juga tidak terlepas dari dukungan komunitas pembatik Sleman. Komunitas tersebut aktif memberikan ruang pamer, membantu pemasaran, serta membina para pembatik muda.
Program Sekolah Rabu di Kapanewon Tempel menjadi sumber pesanan yang stabil, terutama untuk kebutuhan pakaian dalam pertemuan ibu-ibu se-Kapanewon.
Kukuh menyebut batik sebagai bentuk rasa syukur dan bagian dari ibadahnya. Ia bangga dapat mengenalkan batik kepada generasi muda sekaligus menjaga tradisi di daerahnya. “Batik itu anugerah. Saya bersyukur bisa ikut memperkenalkan batik kepada generasi muda,” tuturnya.
Kisah Kukuh dan Batik Merdiko menunjukkan bahwa pelestarian batik tidak hanya dilakukan oleh para maestro senior. Di Tempel, warisan budaya ini justru menemukan napas baru melalui kreativitas, ketekunan, dan dedikasi generasi muda yang ingin menjaga, merawat, dan menghidupkannya kembali.
sumber: Infopublik.id

