Warga Cokrodiningratan Sulap Sampah Organik Jadi Tabungan Lewat Budidaya Maggot

JogjaViews
28 Des 2025 00:18
3 menit membaca

Yogyakarta, Jogjaviews.com – Upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat kembali menunjukkan hasil positif. Warga Kampung Cokrodiningratan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, resmi meluncurkan program Kampung Maggot Lestari (Permak Jas Kamal) sebagai solusi pengolahan sampah organik sekaligus penguatan ekonomi warga.

Program tersebut diluncurkan bersama Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, di Pendopo Kelurahan Cokrodiningratan, Sabtu (27/12/2025). Dalam program ini, sisa makanan dan sampah organik rumah tangga diolah melalui budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF).

Hasto mengapresiasi inisiatif warga yang dinilainya sejalan dengan kebutuhan Kota Yogyakarta yang memiliki keterbatasan lahan pengelolaan sampah. Ia berharap gerakan serupa bisa menyebar ke wilayah lain.

“Harapan saya ini di-gethoktular-kan ke kampung-kampung lain. Jangan hanya di Kampung Cokro,” ujar Hasto.

Menurut Hasto, persoalan sampah di Kota Yogyakarta menjadi semakin krusial karena mulai Januari 2026 kota ini tidak lagi mendapat jatah pembuangan sampah ke TPA Piyungan. Karena itu, pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi keharusan.

Melalui Permak Jas Kamal, sampah organik seperti sisa makanan dan daun-daunan dikumpulkan warga, dimasukkan ke ember, lalu dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Selain mengurangi volume sampah yang dibawa ke depo, lingkungan kampung pun menjadi lebih bersih dan sehat.

“Kami berterima kasih karena gerakan ini sudah berjalan, bahkan ada ronda sampah. Ini sangat membantu menciptakan lingkungan yang bersih,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kampung Cokrodiningratan Anwar Setyowantono menjelaskan bahwa program pembesaran maggot bermula dari kegiatan Mitra Maggot Dayoku sejak April 2025. Awalnya, hanya sekitar 10 ibu-ibu PKK yang terlibat dengan membudidayakan maggot di rumah masing-masing.

Kini, jumlah anggota bank sampah Maggot Mitra Dayoku berkembang menjadi 47 orang, seluruhnya aktif. Warga telah melakukan panen maggot sebanyak 18 kali, dengan hasil panen rata-rata 3–5 kilogram per warga setiap dua minggu.

“Biasanya orang membuang sampah harus mengeluarkan uang. Di sini justru menghasilkan uang. Ini yang jadi pemantik semangat warga,” kata Anwar.

Hasil panen maggot dibeli pengepul dan dicatat sebagai tabungan warga. Ke depan, pihak kampung berencana menggandeng Pegadaian agar tabungan tersebut bisa dikonversi menjadi tabungan emas.

Salah satu warga, Nur Fitrilati, merasakan langsung manfaat program ini. Dari empat kotak maggot, ia mampu memanen sekitar 1,5–3 kilogram maggot setiap panen dan mengolah 1–2 kilogram sampah organik per hari, baik dari rumah sendiri maupun tetangga.

Dengan harga beli sekitar Rp5.000 per kilogram, Fitri telah mengumpulkan tabungan maggot sekitar Rp70.000.

“Manfaatnya banyak. Sampah organik habis, lingkungan bersih, dan dapat rupiah. Tabungan itu bonus,” ujarnya.

Program Kampung Maggot Lestari kini menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan sampah berbasis komunitas mampu menjawab persoalan lingkungan sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga.

sumber: warta.jogjakota.go.id

x
x